Jurnal

Kita Kaum Kebanyakan

Menyeruput kopi siang ini terasa berbeda. Ditemani hujan yang turun sejak tadi, yang bukannya mereda, namun kian deras. Mendentam mengetuk seng yang mulai berubah usang. Seperti juga hati dan asaku yang berkelontangan. Jatuh dari rak tinggi idealisme, dan membentur lantai realita.

Kawan sejati itu ternyata sulit ada. Dan takdir lagi-lagi mencandaiku dengan sarkasme yang sinis mengiris. Kali ini dalam bentuk pertolongan untuk sedikit rupiah. Continue reading

Standard