Jurnal

Serupa Sebuah Perjalanan

Gawai. Kata hasil alih bahasa untuk membahasakan gadget. Dan aku tengah mengusap pelan permukaan salah satunya. Laptop yang menyimpan puluhan berkas tulisanku. Tentang Rien dan Rin, mengulas isi benak yang carut marut, keping kisah romansa juga luka, serta berbilang tulisan untuk blog ini yang duduk manis dalam kumpulan bertanda ‘draft‘. Continue reading

Advertisements
Standard
Jurnal

Kota Yang Mengunci Kata

Dua hari sejak aku meninggalkan kota pegunungan itu, Rien. Tempat dimana waktu kurasakan berdetak lambat. Tempat dimana irama hari berdendang lembut, dengan ketukan pelan dan ketenangan yang nyaris apatis.

Siapa sangka. Hanya sekian hitungan waktu yang tak sampai seribu dua ratus menit. Tapi seluruh algoritma kehidupanku buyar. Aku tersesat dalam lingkar waktu kota pegunungan itu. Tersesat dalam ketidak tergesaan yang menjadi darah dalam pembuluh waktunya.

Dua hari ini menapaki hari dari pagi hingga pagi ke pagi berikutnya. Terkejut mendekati takjub, bagaimana mungkin selama ini aku menjalani hari-hari egois seperti itu. Mengerikan bagaimana kelaziman membuat kita lena, Rien.

Aku menemukan diriku duduk diantara meja meja berisi kelompok pegawai yang bergelak canda, kerja mereka tak banyak, bukannya tak ada. Mereka sudah lama saling mengikat diri dalam aturan hukum sosial pergaulan bernama pertemanan. Sedangkan aku, Rien, hanya pendatang baru diantara ikatan mereka.

Seakan belum cukup pahitnya ijazah sarjana kubenamkan dalam-dalam, lalu mencabut ijazah SMA untuk digunakan dalam pengajuan berburu kerja. Masih harus kuterima kenyataan aku satu-satunya pegawai baru dilingkungan yang orangnya saling kenal sejak bertahun-tahun.

Membaca wajah-wajah penuh basa-basi, senyum sopan santun semata, ucapan selintas sekedar ada. Atau percakapan yang mendadak terputus sesaat aku muncul. Tambahkan juga kerumunan yang perlahan bubar bila aku menceburkan diri. Aku heran, Rien. Butuh tersasar di pegunungan itu baru mataku terbuka melihat hal yang sudah begitu jelas.

Benar katamu, Rien. Katamu dulu, soal kerja dan penghargaan. Bukan semata helai-helai rupiah yang jadi acuan, tapi juga rasa dan sikap yang semestinya diterima. Rasa yang membuat helai-helai rupiah itu akan terasa bernilai. Walaupun tak cukup untuk sebulan, tapi ada penerimaan yang menerbitkan kenyamanan hati saat bekerja.

Kalau kamu masih di sini, Rien. Dan kamu yang berdiri di tempatku, pasti sudah sejak minggu pertama kamu tersenyum ceria menyatakan pengunduran diri. Tapi sejelas beda terang antara bintang dan lampu hemat energi, sejelas itu juga ku pahami bahwa aku tak akan pernah mengundurkan diri. Kontrakku enam bulan, dan akan tuntas beberapa hari lagi. Sungguh tak ada kesulitan untuk menemukan kenyataan bahwa kontrak itu tidak akan diperpanjang.

Kembali ke kota kita ini, Rien. Aku tak paham kenapa. Mungkin karena debu-debu pembangunan yang dipaksakan demi melambungkan citra politik, debu yang tak mau hilang walau dibilas hujan siang ini. Atau mungkin karena aroma hidup ala ibukota yang kian terasa mengapung setiap kali kita bernafas. Kehidupan yang kucemaskan semakin menghapus identitas keacehan kita.

Apapun sebabnya, Rien. Tapi yang jelas kota ini mengunci kata-kata. Begitu mudah ku uraikan kata beberapa waktu lalu di pegunungan sana. Tapi sesaat setelah kembali tiba di kota kita ini, kata tersumbat dalam benak.

Mungkin karena kota ini, atau hujannya yang tak jelas datang dan pergi, atau karena hal lain seperti kerja di tempat yang memikirkannya saja sudah membuat lelah, tempat yang begitu senin tiba seketika membuat kita rindu pada sabtu minggu.

Begitulah, Rien. Kurasa aku harus memburu kata lagi.

 

 

Standard
Jurnal

Rintik Pagi Di Puncak Gunung

Santai dia berujar, bahwa kota pegunungan ini tak lagi sedingin dulu. Dari mulutnya asap tembakau dengan bau menyengat mengepul di sela ucapan. Hanya jaket berlogo satu raksasa industri motor dari negeri para samurai yang membalut tubuhnya. Celana katok selutut dan jala yang ditebar sedayungan perahu demi sedayungan selanjutnya.

Katanya tak dingin lagi, Rien. Sedangkan aku bergelung kantong tidur di beranda kayu pondok. Melihatnya yang hanya tiga langkah  dari teras yang menjulur di atas air ini saja membuatku gemelutuk dalam gigil. Continue reading

Standard
Jurnal, Uncategorized

November Kopi

Asal mulanya adalah kebosanan yang kian menjadi, Rien. Dan seperti tahun-tahun lama, aku menindasnya dengan menghabiskan hari dari terminal di satu kota ke kota lain. Niatku bukan kesana. Tapi lagi untuk kesekian kali, takdir bercanda denganku. Ya, Rien. Takdir yang membuatmu pergi.

Aku terbangun menjelang terminal. Terkejut oleh tikaman dingin. Dan menemukan aku di kota tak ku kenal. Tiang-tiang lampu bergerak melintas dari pandanganku di jendela. Cahaya langit malam yang tak seutuhnya pekat membuatku bisa melihat gunung tinggi yang dekat melingkari kota.

Ada papan nama warung, dan kubaca nama kota ini. Takengon. Continue reading

Standard