Jurnal

Serupa Sebuah Perjalanan

Gawai. Kata hasil alih bahasa untuk membahasakan gadget. Dan aku tengah mengusap pelan permukaan salah satunya. Laptop yang menyimpan puluhan berkas tulisanku. Tentang Rien dan Rin, mengulas isi benak yang carut marut, keping kisah romansa juga luka, serta berbilang tulisan untuk blog ini yang duduk manis dalam kumpulan bertanda ‘draft‘.

“Lama sudah kau tak menguntai kata-kata, Ben.”

Karin menggulung dirinya dalam selimut. Udara kamar kami sejuk karena aliran angin. Tanpa pakaian lengkap, berselimut kain adalah sebuah hal yang menyenangkan. Dan aku mensyukuri kenyataan itu. Bentang pesisir menjadikan sejuk sebagai kemewahan.

“Aku menuliskan kata dan menguntainya, Rin. Setidaknya dua kali dalam seminggu. Tapi mengunggah kata dan kalimat tak lagi menyenangkan. Ada sesuatu yang mencemarinya.”

Ku ungkapkan pada kasihku itu tentang rasa jenuh yang membuatku tenggelam. Rasa yang menyesakkan nafas dan benak. Memjadikan untai kata demi kata itu terserak tanpa simpul akhir. Bertumpuk-tumpuk, hingga jadi bukit. Yang setiap kala terlihat membuat sesak menjadi-jadi.

Rin menatapku lama. Lalu tersenyum. Ia kembali menggulung diri dalam kain yang ku kira bernama katun itu. “Baiklah bila begitu, Ben.”

Kami mengalirkan diri ikut arus waktu. Membiarkan hanyut dalam detik yang bergerak konstan menuju detik berikutnya dan berikutnya lagi. Cukup lama, tapi sebenarnya aku tak tahu berapa lama. Berdiam begitu bisa membuat jam serasa tahun, atau menit tak lebih dari detik.

Karin menggeliat lalu menopang kepalanya dengan siku. Aku suka menatap helai rambut yang menuruni lereng leher dan bahunya. “Kau tahu, Ben? Ada yang meyakini bahwa penyelesain terbaik untuk masalah kehidupan adalah penerimaan? Mengajari jiwa untuk jujur pada kenyataan? Ku rasa istilahnya adalah ikhlas.”

Lagi, aku terpesona akan dirinya. Apakah Tuhan menciptakan dia dengan menyertakan hanya sedikit kekurangan? Untuk melengkapi lelaki berlebih kekurangan?

Kebersamaan kami penuh dengan kejutan. Ku sangka telah ku kenali dirinya. Tapi selalu ada lembaran yang baru penuh kejutan.

Kata tadi tak terbantah. Penerimaan adalah sebagian dari jawaban atas kegundahan jiwa. Menerima akan membuat masalah tak melahirkan masalah baru. Menerima memberikan benak ruang untuk melihat kenyataan, dan sering itu berbuah kilas gagasan untuk menyelesaikan gundah.

Aku jenuh. Dan kuhabiskan masa tuk mencari punca perkaranya. Ketika tak kunjung kutemukan, maka jenuh itu beranak pinak.

Padahal tak rumit. Bila ku terima kenyataan bahwa aku jenuh tapi tak tahu sebabnya, tak merepotkan diri mengejar penjelasan, tentu tak rumit. Jenuh ini tanpa sebab. Titik. Selesai.

Diam-diam ku tertawakan diri ini. Bodoh. Seperti anjing yang berputar mengejar ekornya sendiri. Perjalan panjang memusingkan tanpa akhir.

Serupa sebuah perjalanan. Memang kita perlu berjalan, sesekali tersesat. Tanpa perlu disesali. Kadang perjalanan salah arah itu membawa kita ke tempat baru yang tak terduga.

Tersesatnya aku dalam kejenuhan tanpa sebab ini membuatku bisa melihat banyak hal. Tentu setelah ku terima. Tak kupermasalahkan lagi.

Angin dari laut berhembus. Suara derau angin menerobos cemara pantai menderu dengan nada datar. Rumah kecil kami hanyalah satu dari sekian banyak barisan rumah bantuan negara asing. Ketika Rin kubawa perdana, ia tersenyum. Dan aku lega.

Hidup. Memang sebatas menerima atau tidak.

Advertisements
Standard

One thought on “Serupa Sebuah Perjalanan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s