Jurnal

Hingga Saat Mentari Terbit Dari Barat.

“Tak kerap lagi kulihat kau menuliskan untai kata-katamu, Ben” Tukasnya di hulu percakapan. Kata yang pamungkasi ruang bicara pagi itu.

Kata yang membuatku teralih dari benih-benih yang kuburaikan. Rin, tak biasa ucapkan kalimat sejenis itu. Baginya aku dan narasiku adalah sajian yang dinikmati. Semata bila terhidang. Bukan bagaian dari yang diharap ada dan ditelusuri ada tiadanya.

“Apakah aku meracuni taman katamu, Ben?” Lagi ia lirih menyuarakan tanya. Dan aku tercekat. Perihkah yang terasa mengalir dari ucapnya itu? Atau aku terlalu dibawa permainan asa?

Rin menatapku. Dan rasa bersalah tumbuh meninggi dalam hati. Apa yang sudah kulakukan hingga membuat jendela jiwanya keruh serupa itu.

“Aku tak menarikan kata-kata, karena ini masa untukku menata pentas tarian kehidupan kita, Rin.”

“Gawaimu semakin sepi hari-hari belakangan ini, Ben. Tak lagi ada percakapan dari seberang negeri, pun hanya satu dua sapa dari pulau-pulau negara ini. Tak kah kau rindukan semua itu?”

Rin menarik buku dari tumpukan. Ku kenali sebagai kumpulan puisiku. Lalu buku lainnya, tulisan yang melukiskan khayalku pada kehidupan dimasa kegelapan jiwa dulu menguasai diri.

Aku tersenyum.

“Ada tak ada aku, Rin. Dunia mereka di semesta sana tetap berputar. Aku dan mereka hanyalah nama-nama yang nyaris layak dinamai fiksi dalam peradaban ini. Seluruh usia kita hanya sedetik dalam putaran waktu jagad raya.

Mereka, teman dan kerabatku di dunia huruf ini, adalah orang yang paling paham aturan sederhana kehidupan. Yamg banyak manusia telah lupa akibat kepoisme yang menjadi gaya hidup masa kini. Aturan yang berbunyi sederhana.”

“Apa itu, Ben.”

“Berjumpalah dengan sepenuh hati saat ada ruang jumpa. Hargai pula masa ketika tak ingin dijumpai. Tak rumit. Pun bila lama nanti, lalu aku tak dinilai sebagai ada, itu tak menjadi masalah. Ada tak ada seorang, Ben. Hidup akan tetap berjalan. Samudera tetap berdebur ombak, dan sang surya tetap terbit dari timur hingga sampai detik ia beralih hadir dari barat. Saat itu, bahkan seisi semesta tak penting lagi.”

Rin menatap angkasa. Langit pagi ini biru. Meskipun ada mendung di langit. Di baliknya langit tetap biru. Ia tersenyum. “Aku semakin pahami apa sebab Rien dengan segala kesempurnaannya dulu mencintai duniamu yang pecah tepinya. Karena itulah yang kurasa.”

Aku menunduk. Tapi cukup yakin, biji-bijian ini tak akan tumbuh lagi, tercemar oleh senyum lebar yang kusembunyikan.

Advertisements
Standard

2 thoughts on “Hingga Saat Mentari Terbit Dari Barat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s