Jurnal

Pergiliran Musim Hati

“Kau pernah begitu larut dalam narasi kepedihan dan kehilangan, Ben. Pun kini kubaca pada helai-helai catatanmu adalah baris-baris kata tentang cinta.”
Karin tak sadar ia memilin sejumput helai rambut di sisi telinganya saat berujar, pagi tadi dalam percakapan tak jelas arah. Kami bersisian pada bukit pasir, duduk menatapi batas air dan gelung ombak yang manja memeluk pantai.

Aku sepenuhnya paham, ia memberi peluang untukku berkelit. Tapi sejak hari pertama itu, aku sudah mengikat hati Dan ego. Padanya aku hanya akan mengatakan kebenaran. Aku mengangguk.

“Ya, ada waktu ketika aku terjebak pada musim gugur bertabur kehilangan, Rin.”

Senyum mekar di wajahnya. Ia tak berpaling. Tetap memeluk lutut dengan satu tangan, dan tangan satunya masih juga memilin helai rambutnya yang lurus tanpa cela. Jilbabnya melingkari leher. Tadi ia berkilah pepohonan menghijabi kami.

“Musim gugur, Ben? Hatimu ternyata empat musim.”

Kini aku yang tersenyum. “Begitulah, Rin. Hatiku punya empat musim. Namun pergilirannya tak dihela cuaca dan pergerakan semesta. Rasa yang menjadi pembawanya.”

Ia mengulum senyumnya. Kata-kata tersimpan, tak lagi bergulir. Dan aku yakin, tak perlu ku narasikan, ia paham. Bagiku, dirinya adalah musim semiku.

 

Advertisements
Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s