Jurnal

Menyemai Mimpi Bertilam Janji

“Perjumpaan pertama, hari ini, dan segala kala diantaranya.” Begitu jawabmu, Rin. Untuk tanyaku perihal waktu yang paling kau kenang dalam rentang kebersamaan kita.

Aku menatap jendela jiwamu, berlapis lensa koreksi pandangan, dan kulihat senyum jenaka di dalamnya. Karam niatku menegaskan tanya itu. Jawabmu tak mungkin ditolak.

Tawamu kini merekah. Kau mengusap lembut cincin penanda janji di jemarimu. Masih kemilau tanpa gurat waktu, masih terhitung hari sejak tersemat. “Ben, aku paham kehilangan yang masih membayangi benakmu. Kepahaman itu yang menemani rentang asa hingga tersambut. Pahami saja begini adanya, bahwa sejak awal temu kita, setiap kala yang ada ialah berharga. Setiap kala, Ben. Dan aku tak bisa memilah satu diantaranya. Berharga dengan setiap cara dan nilai tersendiri.”

Rin menata ulang makna kesetiaan dengan narasinya. Menjungkirkan pemikiran diri yang kusangka luas sebab basuhan urai kata para filsuf dan sastrawan. Yang ternyata sempit, terlalu larut dalam buai kerumitan pemikiran mereka.

Mereka yang mengaku telah paham apa makna dan cara cinta, tak lain adalah pembohong yang tak pernah jatuh cinta, tapi menyangka egonya itu adalah cinta.

Kata itu memintas dan kucatatat dalam benakku.

Rin menoleh, menatap ombak. Aku mengikuti pandangannya. Untuk sekarang, kata dan narasi sebaiknya disimpan saja. Selami asa dalam kala. Agar kelak bisa berkata, kala itu cinta mengapung di udara dan kami menariknya pada hembusan nafas.

Advertisements
Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s