Jurnal

Anomali Machico

Harus ku katakan aku menjadi olok-olok antara tiga manusia lajang yang tak jalang itu. Dan semua karena senyum Machico.

Aku melihatnya melintas di layar plasma 29 inch dan langkahku macet. Benakku kehilangan orientasi. Aku tersesat pada senyumnya, suaranya yang  cempreng, dan itu adalah satu hal di luar nalar.

Ada berbilang wajah jelita dari negeri matahari terbit itu, dan lebih berbilang lagi yang cantik diatasnya, tapi dia, yang mengobrak abrik tatanan realitasku.

Dia seketika mengukuhkan keberadaannya diantara Hemingway, Pamuk, Nh. Dini, Pramoedya. Machico duduk diantara mereka dengan gaya manja dari budaya kaway dan Tolstoy tercenung melihatnya. Perempuan apa ini. Tak seindah Cleopatra, tak seeksotis Sonam Kapoor, bahkan kalah dibandingkan Raline. Machico sebiasa wajah yang kutemui diantara deret baris toko Peunayong. Tapi disinilah dia. Ada dan menjadi Anomali dalam hidupku.

Tiga lajang itu terbahak berpekan-pekan. Dan pagi tadi, kamu Rien, membisikiku.

“Karin.” Ujarmu lembut, tertawa, melingkarkan tangan dipundakku. Untuk tanya yang kulontarkan ke langit. Mengapa Machico, yang adalah pemaknaan sempurna sebagai antitesis dirimu Rien.

Advertisements
Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s