Jurnal

Cela Bertalam Emas Disepuh Perak

Kata tak selalu bermakna seperti terdengar atau terbaca. Bersayap dengan makna tersirat. Senyum dapat berarti hinaan, walau tak menafikan bahwa senyum tetap bermakna senyum. Sosok dibalik kata, adalah penentu. Seperti sebatang tombak, tangan dipegangannya yang menetapkan, kebaikan ataukah keburukan yang dibelanya.

Cela itu tak selalu berupa lontaran pisau yang tajam menusuk, atau sebalok kata yang dihempaskan dengan nyata. Ini jaman ketika cela disajikan bertalam emas disepuh perak, dihidangkan dalam cawak keramik, berpercik wangian harum membumbung bersama hembusan angin dari pantai.

Tapi dengarkan, ada tanya yang kusangka layak kita renungi.

Apakah dasar kita mencela? Atas landasan apa pula kita mengkritisi? Apakah karena hati ini ingin dia menjadi lebih bersinar, apakah kerana kecintaan ingin bersama meraih keberhasilan, apakah sebab tak bahagia hati bila menjadi lebih baik seorang diri dan ingin semakin banyak yang membersamai dalam kegembiraan.

Atau, ketidakrelaan bila cahaya dipanggung sedikit mengenai dia, bisa juga kebencian soal prestasi yang dilangkahinya, coba telusuri hati apakah cela dan kritik itu memang berhak diberikan, atau justru sebuah usaha tersusun untuk merampas haknya. Landasan sikap yang tak lain melebihi keangkuhan diri untuk menerima dia mungkin setapak di depan atau dua tapak lebih.

Seakan tak terkait. Tapi sikap dan cara berpikir menghadapi kompetisi, menghadapi kadar kemampuan orang lain tak lain dari salah satu potongan penyusun masyarakat sosial. Keterbukaan hati pada dasarnya menunjukkan pemikiran yang tersimpan dalam benak manusianya. Adakah berkelas, berwawasan, berhias kebijakan, ataupun jumud dalam keterbelakangan yang tak paham manusia hidup dalama rantai besar yang saling kait mengait.

Hati yang sakit kala terlangkahi pencapaian seseorang yang selama ini dibawah bayangan kita, bukan melahirkan kedengkian bagi jiwa yang tercerahi. Sakit tak terlupakan, tapi ada sisi menghargai sehingga keberhasilannya adalah kebahagiaan bersama. Perkara sakit hati kan teralih nilai menjadi anak tangga untuk menghasilkan yang lebih baik, atau setidak berusaha yang lebih kuat.

Berlapang dada, bukan berarti menjadi sosok kebas tanpa rasa. Ianya adalah penerjemahan dari penerimaan bahwa hidup ada menang kalah, kerelaan bahwa roda kehidupan memang berputar.

Jubah emas dan panggung gemerlap pada akhirnya hanya selebrasi fisik semata. Tak ada jaminan berketetapan mutlak bahwa mereka yang dianugerahi selempang dan kucuran pujian akan berjiwa seindah kemilaunya. Bagi jiwa-jiwa kerdil, panggung terlalu kecil untuk dibagi, maka akan dihamburkan dari lisan dan jemarinya penistaan. Bagi jiwa-jiwa kerdil yang cukup cerdas cela disajikan bertalam emas disepuh perak, dihidangkan dalam cawak keramik, berpercik wangian harum membumbung bersama hembusan angin dari pantai. Sayangnya, bau busuk tak bisa dikemas, akan tercium dan hilanglah segala istana pasir miliknya. Jiwa-jiwa kerdil tak paham, rumah megah mereka tak lebih dari tumpukan kartu yang rentan hembusan angin.

Advertisements
Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s