Jurnal

Cela Bertalam Emas Disepuh Perak

Kata tak selalu bermakna seperti terdengar atau terbaca. Bersayap dengan makna tersirat. Senyum dapat berarti hinaan, walau tak menafikan bahwa senyum tetap bermakna senyum. Sosok dibalik kata, adalah penentu. Seperti sebatang tombak, tangan dipegangannya yang menetapkan, kebaikan ataukah keburukan yang dibelanya.

Cela itu tak selalu berupa lontaran pisau yang tajam menusuk, atau sebalok kata yang dihempaskan dengan nyata. Ini jaman ketika cela disajikan bertalam emas disepuh perak, dihidangkan dalam cawak keramik, berpercik wangian harum membumbung bersama hembusan angin dari pantai.

Tapi dengarkan, ada tanya yang kusangka layak kita renungi. Continue reading

Standard