Jurnal

Harapan, idealisme, realita

Rien, lama tak menyapa. Namun kusangka kamu tahu aku masih mencari kebenaran soal realita yang sering mengikis idealisme. Seperti juga tujuh milyar lebih manusia di muka bumi yang terkejut-kejut tersebab seringnya harapan mereka kandas dihantam badai kenyataan.

Ceritaku masih sama, Rien. Idealisme yang disemai mimpi-mimpi optimis yang menemani cangkir dan gelas di kedai kopi, mulai dipangkas realita. Semangat melangit akibat kata penuh motivasi, dan gambar-gambar penyubur mimpi yang ditempeli di dinding, mulai memahat dirinya menuju bentuk yang seharusnya.

Ketika ku nukilkan cuplikan pemikiranku, soal mereduksi mimpi kosong menjadi hal yang lebih realistis, mereka dengan mudah menuduhku lelaki patah semangat. Putus harapan. Atau the Lost One, yang kalah digerus kenyataan.

Bagi mereka, ternyata kenyataan itu adalah terlarang. Mereka merasa bahagia dengan mimpi-mimpi. Terlalu sombong dan angkuh mereka menilai diri sendiri. Banyak yang lupa kalimat motivasi penggerak diri yang mereka ucapkan hanya mengulang hafalan dari orang lain. Yang sebenarnya mereka pun tak mampu meyakininya. Namun ditengah lehidupan serba sulit begini, menjadi kaum buruh pekerja, yang dilabeli sebagai masyarakat penerima zakat. Bisa mengenakan jas, bersorak gembira dalam mimpi 45 menit, untuk sesaat melupakan kredit panci, biaya membeli emas mahar yang semakin mahal, dan pekerjaan sehari-hari yang membuat rumah ditempeli stiker bertuliskan Penerima Bantuan Rakyat Miskin. Adalah kegembiraan.

Seperti jutaan orang yang menyemuti bioskop-bioskop di segenap tanah hindustan, larut dalam mimpi tiga kali lima puluh menit, tersipu akibat lirikan manja Alia Bhatt, terpana pada liuk tubuh Sonam Kapoor. Lalu saat layar mati, film tuntas, kaki-kaki yang masih mabuk mimpi itu berbaris pulang melewati lorong-lorong berbau pesing kembali ke kamar kost petak yang lembab dengan aroma kol busuk berjamur ditengah uap comberan yang menguar membumbung ke langit.

Aku takjub, Rien. Melihat pemujaan mereka pada harapan. Membalutnya dengan idelaisme melangit tinggi. Hingga ketika ditampar realita, mereka terlalu kebas untuk merasakannya.

Mungkin aku yang salah, karena kepergianmu ketika tsunami membuat kumelihat hidup sebagai sekumpulan naskah yang punya banyak kisah sebagai penghujungnya.

Sebungkus nasi dengan perkedel kemarin mendadak terlalu mahal. Menarikku dari pusaran semu harapan menuju hamparan kenyataan. Kita tak bisa mempertahankan idealisme, bila tak mau menerima realita. Harapan yang tak berdasar pada kenyataan pada ujungnya akan berakhir pada mimpi yang hilang saat subuh menjelang.

Hidup tak semanis yang kurencanakan, Rien. Mereduksi tahapan dan nilainya adalah keputusan logis. Tapi bukan berarti aku membuang harapan. Hanya menatanya agar terukur dan lebih mudah diperkirakan.

Advertisements
Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s