Jurnal

Kita Kaum Kebanyakan

Menyeruput kopi siang ini terasa berbeda. Ditemani hujan yang turun sejak tadi, yang bukannya mereda, namun kian deras. Mendentam mengetuk seng yang mulai berubah usang. Seperti juga hati dan asaku yang berkelontangan. Jatuh dari rak tinggi idealisme, dan membentur lantai realita.

Kawan sejati itu ternyata sulit ada. Dan takdir lagi-lagi mencandaiku dengan sarkasme yang sinis mengiris. Kali ini dalam bentuk pertolongan untuk sedikit rupiah.

Tapi sisihkan saja cerita itu. Nyaris mendekati klise. Hanya kisah lama yang terjadi pada banyak manusia. Berbungkus pertolongan, narasi kebaikannya disertai tumpukan tugas yang membuat kita menyesal menerima uluran tangannya. Tapi menolak pun agak mustahil, karena perut dan kebutuhan hidup harus diisi.

Kopi siang ini terasa beda, Rien. Karena aku teringat sepenggal percakapan denganmu. Aku lupa mengapa siang itu kita di kampus. Tapi aku ingat kita serius menyusun percakapan mengenai kuliah. Kamu dengan rencana terperinci, detil hingga hitungan hari, untuk menyegerakan skripsimu. Dan aku yang hanya punya satu rencana. Berhenti kuliah, dan mencari kerja secepatnya.

“Sebenarnya, siapa kita? ” Pertanyaanmu saat itu berbuah candaan romantis. Kita tergelak lalu melupakannnya. Tapi saat ini aku teringat lagi, dan kini punya jawabannya.

Kita adalah buih. Para kaum kebanyakan. Kelompok manusia dengan populasi terbanyak di dunia. Kita ada tapi tak ada.

Kita adalah orang-orang yang ketika kamera televisi merekam, akan berada dalam wujud satu barisan besar manusia yang wajahnya hanya sekelebat saja. Pengisi ruang dominan, namun tak penting untuk di identifikasi. Kita hanya pengiring pemeran utama. Kita bahkan bukan pemeran pembantu. Tugas kita hanya satu, yaitu ada.

Kita adalah para anggota partai politik. Yang namanya tak dikenal, hanya sebuah deretan panjang dalam statistik kaderisasi, yang dengan gigih membagikan kalender atau sekedar helai-helai kecil stiker. Barisan tanpa nama, tak masuk panggung dalam agenda musyawarah dan perhelatan besar partai. Kita adalah orang-orang partai yang ketika ada kegiatan jumpa kader akbar, dengan senyum merekah mengeluarkan baju partai dari lemari, mengoleskan winyak wangi terbaik. Lalu bertepuk tangan gembira saat para tokoh berdiri di panggung. Kita sudah bahagia saat menjelang acara usai berdiri di sudut panggung, lalu swafoto dengan latar spanduk, bendera partai dan segala kemegahan panggung. Foto itu kita cuci, lalu dibingkai dengan takzim dan memajangnya di ruang tamu.

Kita adalah mereka yang bergelar staf. Karyawan tak terlalu dikenal, berdiri di tengah saat apel bedera di halaman kantor. Gajinya selalu pupus di tengah bulan, dan kerja serabutan demi menggenapkan sampai akhir bulan. Kita adalah pegawai yang selalu mengerjakan setumpuk besar laporan, membuat perhitungan, lalu menyerahkan pada kepala bagian. Kepala bagian bawa ke atasan. Kalau bagus kita jarang di puji, kalau salah tugas itu kembali ke meja kita, dengan nota agar segera diperbaiki. Kita juga yang selalu kebagian tugas dinas lapangan ke daerah yang susah dan tidak menyenangkan, tapi kita terima dengan senang hati karena ada tambahan rupiah untuk pundi-pundi kita.

Kita adalah mereka. Buih dipermukaan samudera kehidupan ini. Kaum kebanyakan. Yang terlahir tanpa kehebohan, hidup dengan gelombang kecil seperti keripik kentang, guncangan terbesar dalam hidup kita adalah naiknya harga sembako, cabe keriting dan kol gepeng. Soal harga daging, tak soal. Setahun kita hanya makan daging ketika tiga meugang itu datang.

Itulah kita, Rien.

Tapi bagiku jawaban itu walau benar terasa salah. Aku tak berharap jadi bangsawan dalam klan politik atau kantor, sejengkal pun aku tak ingin itu. Aku hanya tak ingin mati sebagai buih. Aku tak ingin keberadaanku terlupakan begitu saja dalam putaran sejarah. Aku ingin meninggalkan jejak keberadaanku. Walaupun mungkin hanya ada dua, lima, atau bahkan hanya satu dari 7 milyar seperdelapan manusia di bumi yang tahu aku pernah ada.

Seperti aku yang terus mengingatmu, Rien. Aku berharap, mungkin setengah abad lagi, akan ada yang menemukan jejak itu, terselip diantara catatan-catatan. Mungkin takdir bersedia membawa kata kunci yang tepat, lalu orang itu tersenyum dan berkata.

“Dulu, Ben pernah ada.”

Advertisements
Standard

2 thoughts on “Kita Kaum Kebanyakan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s