Jurnal

Kota Yang Mengunci Kata

Dua hari sejak aku meninggalkan kota pegunungan itu, Rien. Tempat dimana waktu kurasakan berdetak lambat. Tempat dimana irama hari berdendang lembut, dengan ketukan pelan dan ketenangan yang nyaris apatis.

Siapa sangka. Hanya sekian hitungan waktu yang tak sampai seribu dua ratus menit. Tapi seluruh algoritma kehidupanku buyar. Aku tersesat dalam lingkar waktu kota pegunungan itu. Tersesat dalam ketidak tergesaan yang menjadi darah dalam pembuluh waktunya.

Dua hari ini menapaki hari dari pagi hingga pagi ke pagi berikutnya. Terkejut mendekati takjub, bagaimana mungkin selama ini aku menjalani hari-hari egois seperti itu. Mengerikan bagaimana kelaziman membuat kita lena, Rien.

Aku menemukan diriku duduk diantara meja meja berisi kelompok pegawai yang bergelak canda, kerja mereka tak banyak, bukannya tak ada. Mereka sudah lama saling mengikat diri dalam aturan hukum sosial pergaulan bernama pertemanan. Sedangkan aku, Rien, hanya pendatang baru diantara ikatan mereka.

Seakan belum cukup pahitnya ijazah sarjana kubenamkan dalam-dalam, lalu mencabut ijazah SMA untuk digunakan dalam pengajuan berburu kerja. Masih harus kuterima kenyataan aku satu-satunya pegawai baru dilingkungan yang orangnya saling kenal sejak bertahun-tahun.

Membaca wajah-wajah penuh basa-basi, senyum sopan santun semata, ucapan selintas sekedar ada. Atau percakapan yang mendadak terputus sesaat aku muncul. Tambahkan juga kerumunan yang perlahan bubar bila aku menceburkan diri. Aku heran, Rien. Butuh tersasar di pegunungan itu baru mataku terbuka melihat hal yang sudah begitu jelas.

Benar katamu, Rien. Katamu dulu, soal kerja dan penghargaan. Bukan semata helai-helai rupiah yang jadi acuan, tapi juga rasa dan sikap yang semestinya diterima. Rasa yang membuat helai-helai rupiah itu akan terasa bernilai. Walaupun tak cukup untuk sebulan, tapi ada penerimaan yang menerbitkan kenyamanan hati saat bekerja.

Kalau kamu masih di sini, Rien. Dan kamu yang berdiri di tempatku, pasti sudah sejak minggu pertama kamu tersenyum ceria menyatakan pengunduran diri. Tapi sejelas beda terang antara bintang dan lampu hemat energi, sejelas itu juga ku pahami bahwa aku tak akan pernah mengundurkan diri. Kontrakku enam bulan, dan akan tuntas beberapa hari lagi. Sungguh tak ada kesulitan untuk menemukan kenyataan bahwa kontrak itu tidak akan diperpanjang.

Kembali ke kota kita ini, Rien. Aku tak paham kenapa. Mungkin karena debu-debu pembangunan yang dipaksakan demi melambungkan citra politik, debu yang tak mau hilang walau dibilas hujan siang ini. Atau mungkin karena aroma hidup ala ibukota yang kian terasa mengapung setiap kali kita bernafas. Kehidupan yang kucemaskan semakin menghapus identitas keacehan kita.

Apapun sebabnya, Rien. Tapi yang jelas kota ini mengunci kata-kata. Begitu mudah ku uraikan kata beberapa waktu lalu di pegunungan sana. Tapi sesaat setelah kembali tiba di kota kita ini, kata tersumbat dalam benak.

Mungkin karena kota ini, atau hujannya yang tak jelas datang dan pergi, atau karena hal lain seperti kerja di tempat yang memikirkannya saja sudah membuat lelah, tempat yang begitu senin tiba seketika membuat kita rindu pada sabtu minggu.

Begitulah, Rien. Kurasa aku harus memburu kata lagi.

 

 

Advertisements
Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s