Jurnal

I Wanna See You Now

Tidak pernah kubayangkan, Rien. Bagaimana sebuah lagu bisa memengaruhi ingatan. Lintasan beberapa bait lagu. Terdengar sepintas saja. Hanya kilasan nada di latar belakang percakapan. Warung kopi pagi hari ini. Dan aku teringat percakapan kita.

Hari itu selepas praktikum. Bahkan lelah tak membuatmu terlihat tidak manis, Rien. Kita punya kebiasaan yang sama soal kaca mata. Melepasnya dari puncak hidung, lalu mulai mengusap lensa koreksi penglihatan itu dengan ujung baju.

Bedanya kamu setia dengan kacamatamu, sedangkan aku hanya memakainya bila tak punya pilihan lain.

“Abang tahu?” katamu saat itu memulai percakapan “Apa kata teman Rien, tersebab hubungan kita?”

Aku mengangguk. Lebih dari sekedar dua tiga kali, ucapan mereka tersurat dan tersembunyi di balik kata, mencela dan menggugat aku dan dirimu, Rien. Perkara sederhana saja, menganggap aku melangkahi pagar aturan sosial karena menjalin rasa denganmu, sedangkan aku bukan bagian dari kumpulan kalian.

“Yang terpenting adalah percayamu pada Rien.” Kamu mengucapkannya dengan senyum yang membuatku tak peduli lagi andaikan seluruh universitas delapan fakultas dua puluh sembilan jurusan, satu suara menyatakan aku harus mundur. “Sejak hari pertama asa itu terjalin, Rien sudah memilih. Dan itu pilihan terbaik yang membuat Rien bahagia.”

Masih ingat percakapan hari itu, Rien. Kita bahkan mencoba menjadi filsuf dengan menciptakan rangkaian kata-kata ala mereka. Mengutip sepotong di sana lalu sepotong di sini. Tersipu bersama kala terkilas sedikit percakapan mengenai rencana kita yang akan segera membina ikatan bahtera cinta. Legal di mata hukum dan Tuhan.

Dari ungkapan klasik Lau Tzu yang paling terkenal, Perjalanan ribuan mil berawal dari satu langkah. Segalanya berawal dari hal2 kecil. Hingga bermuara pada ungkapan indah darimu, yang aku tak tahu kau kutip dari mana Rien.

Meskipun kita tak bisa mengendalikan angin di atas samudera, kita selalu bisa menentukan arah layar.

Aku percaya kamu masih mengingat hari itu, Rien. Ingatanmu jauh lebih baik dariku.

Tapi kemudian kamu pergi, Rien. Hal yang telah empat ribu hari ingin kulupakan, bersama seluruh ingatan tentangmu. Ironisnya, semua upaya itu justru membuatmu semakin lekat dalam garis-garis kenanganku.

Ranselku sudah dikemas. Mobil yang akan membawaku melintas kabupaten dan kota-kota menuju Banda Aceh, bisa muncul kapan saja. Aku tak bisa mengerti bagaimana cara menikmati espreso, apakah kopi baru dinyatakan nikmat bila pahit sampai ke ulu hati begini? Tapi dibayari membuatku tak mungkin menolak tawaran pemilik pondok. Dia juga telah berbaik hati mengantar ke kota, menempuh lima belas menit perjalanan. Dan tak sembunyi-sembunyi menunjukkan kebanggaannya pada kopi dari kampung halamannya ini.

Kesukaanmu pada lagu-lagu yang jauh sebelum masamu, membuatku tahu lagu yang mengalun tadi. Diam-diam mengunduh lagu itu, aku memutarnya kembali. Memasang headset dan bersenandung pelan. Menyanyikan salah satu lagu kita.

i can’t stop worrying
now that you are gone
our way of living’s always on my mind
tell me what is all that bad
that we have to quit
i can’t imagine it was worse than this

i’ve found my evening filled with boredom
night time filled with restlessness
and days are dragging on without an end

and i know we’ve talked it over
and we had it all figured out
but i couldn’t work that way
i wanna see you now…..

Tiga minggu lagi, Rien.

 

Advertisements
Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s