Jurnal

Rintik Pagi Di Puncak Gunung

Santai dia berujar, bahwa kota pegunungan ini tak lagi sedingin dulu. Dari mulutnya asap tembakau dengan bau menyengat mengepul di sela ucapan. Hanya jaket berlogo satu raksasa industri motor dari negeri para samurai yang membalut tubuhnya. Celana katok selutut dan jala yang ditebar sedayungan perahu demi sedayungan selanjutnya.

Katanya tak dingin lagi, Rien. Sedangkan aku bergelung kantong tidur di beranda kayu pondok. Melihatnya yang hanya tiga langkah  dari teras yang menjulur di atas air ini saja membuatku gemelutuk dalam gigil.

Danau impianmu ini, Rien. Memang indah. Tapi sepertinya kita dulu lupa bertanya bagaimana dinginnya ketika malam dan hujan tiba. Semalam pemilik pondok datang. Rumahnya memang sejengkal di lereng atas pondok. Berbaik hati mengajarkan cara menyalakan api unggun. Aku masih tidak bisa menyalakan api lagi pagi ini. Habis cara, tapi kayu itu tak mau berapi juga. Hanya asapnya yang tadi cukup banyak untuk mengusir nyamuk. Paling tidak, Rien. Aku paham apa guna baskom kaleng berisi tumpukan debu di teras. Api unggun portabel.

Kemarin itu kutinggalkan Banda Aceh saat hujan. Dan pagi ini aku bergelung menatap hujan. Dalam benakku terpikir, ini hujan yang sama dengan di pesisir sana. Tapi disini dinginnya berlipat ganda.

Rintik di pagi hari ini mengingatkanku tentang kesukaanmu pada hujan. Juga tabiatmu untuk menulis puisi saat butir-butir air langit ini mencumbui bumi.

Aku pernah menyimpan satu kutipan tentang hujan, dan kehilangan. Juga rindu dan kepedihan. Ku kutipkan di sini, Rien. Semoga kau membacanya.

“There are a hundred things she has tried to chase away the things she won’t remember and that she can’t even let herself think about because that’s when the birds scream and the worms crawl and somewhere in her mind it’s always raining a slow and endless drizzle.

You will hear that she has left the country, that there was a gift she wanted you to have, but it is lost before it reaches you. Late one night the telephone will sign, and a voice that might be hers will say something that you cannot interpret before the connection crackles and is broken.

Several years later, from a taxi, you will see someone in a doorway who looks like her, but she will be gone by the time you persuade the driver to stop. You will never see her again.

Whenever it rains you will think of her. ”
Neil Gaiman

Kapan pun hujan turun, aku memang selalu teringat padamu. Masihkah mencintai membidani kelahiran puisi berteman hujan, Rien?

Advertisements
Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s