Jurnal, Uncategorized

November Kopi

Asal mulanya adalah kebosanan yang kian menjadi, Rien. Dan seperti tahun-tahun lama, aku menindasnya dengan menghabiskan hari dari terminal di satu kota ke kota lain. Niatku bukan kesana. Tapi lagi untuk kesekian kali, takdir bercanda denganku. Ya, Rien. Takdir yang membuatmu pergi.

Aku terbangun menjelang terminal. Terkejut oleh tikaman dingin. Dan menemukan aku di kota tak ku kenal. Tiang-tiang lampu bergerak melintas dari pandanganku di jendela. Cahaya langit malam yang tak seutuhnya pekat membuatku bisa melihat gunung tinggi yang dekat melingkari kota.

Ada papan nama warung, dan kubaca nama kota ini. Takengon.

Ingat siang itu Rien. Siang di halaman belakang ruang kuliah. Kita bercanda tentang hari-hari selepas ijab kabul. Dan kau bisikkan lembut tentang kota ini. “Bawa Rien ke tepian Laut Tawar, bang. Mungkin menyewa pondok kecil, lalu habiskan seminggu dua bersama di sana.”

Takdir bercanda dengan kejam. Setelah kau pergi, dia membuatku kembali mengingatmu senja kemarin, dan sebelumnya dia menyesatkanku pada kota yang namanya kau bisikkan mesra.

Tapi aku tak marah lagi, Rien. Tak ada kebetulan yang terjadi di muka bumi dan semesta ini. Semua berjalan dengan tujuan. Seperti hadirku di kota ini. Dan itu kutemukan dalam wujud sebentang spanduk. November Kopi.

Berbekal motor sewaan, ku cari kesana kemari kemudian menyelinapkan diri diantara bait-bait puisi dan percakapan. Ku simpan saja senyum saat dalam bicara seni dan budaya keindahan melukiskan kalimat ada saja terselip usaha politisi menambang suara.

Dari cafe di tengah kota, hingga hotel di tepian Laut Tawar, danau yang kau impikan, dan ternyata memang sangat indah. Hingga warung kopi eksotis di tengah kebun kopi. Aku terjebak dalam dunia yang kau cintai, Rien. Puisi dan sihir yang melebur bersama huruf-hurufnya.

November itu bulan yang sendu. Tapi aku menemukan arah di dalamnya. Pagi ini kuhabiskan melakukan hal yang selama ini ku enggani. Melayari sosial media. Memasuki dunia yang baru.

Dunia maya dan dunia kata juga puisi  yang kau cintai, Rien. Bagiku punya kesamaan besar. Sama-sama antah berantah yang tak pernah ku pahami. Tapi kini aku membuka pintunya. Mengintip dari bingkai melengkung dunia imaji ini. Sungguh aku terkejut. Di sini, kata-kata mengurai dengan lancar. Padahal bersama ku lepas seragam abu-abu putih kita, kutinggalkan juga dunia ini, tapi siapa sangka, jejaknya tak pupus.

Dan mengenai danaumu itu, Rien. Meleha-lehakan diri di tepiannya saja membuatku mendadak puitis. Kau mungkin tergelak nanti, Rien. Tapi aku menulis puisi di sana. Nanti ku hantarkan untukmu, dalam talam tembaga berukir.

Aku menemukan pondok kecil di tepi danau itu, Rien.Kusewa saja. Aku akan menikmati beberapa hari ini di sini. Fotomu ku letakkan di tepi jendela, agar kau bisa melihat danau.

Advertisements
Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s