Jurnal

Hari Titik Nol

Semalam usai kumulai, halaman-halaman putih artificial ini membuatku merenung. Bagaimana mungkin aku berusaha melupakanmu selama ini, Rien. Karena di atas segala sakitnya perpisahan tak terniat itu, aku tahu aku mencintaimu.

Bila takdir kemudian membawamu pergi, bukankah itu adalah urusanku dengan takdir, bukan denganmu. Tapi keping waktu yang bergerak maju membawa entitas tak ku duga antara aku, dirimu, dan rasa kita. Rasa yang kita sepakat menamainya cinta.

Entitas itu bernama ego, Rien. Kau pergi, aku terluka, lalu mencari cara pintas melarikan diri dari kehilanganmu yang ternyata lebih menyakitkan dari ekspektasiku. Kau pergi, Rien. Bersama takdir yang tidak kita persiapkan bahkan dalam teori yang kita bicarakan sampai tingkatan mustahil. Dan aku terluka. Kehilangan. Patah sayap. Hilang tersesat dalam mimpi-mimpi. Lalu aku memilih melupakanmu.

Dan setelah dua belas tahun, Rien. Aku masih merindukanmu.

Hari ini, Titik Nol, tapi bukan awal mula, Rien. Hanya eskalasi dari lembaran-lembaran lama buku kehidupan yang tertulis namamu dan aku. Aku menyerah atas upaya membohongi diri. Aku menyerah untuk tidak merindukanmu, Rien.

Realita pahit adalah tanpamu aku tak sempurna. Dan selama empat ribu hari lebih aku timpang, menjadi bujur sangkar yang tak sama sisi.

Hari ini bukan hari baru, Rien. Titik Nol hanya sebab aku mengakui aku merindukanmu. Itu saja. Aku mengakui yang telah aku tahu pasti selama ribuan hari namun terlalu angkuh mengakui. Adalah kebenaran bahwa sampai hari ini, aku masih merindukanmu, Rien.

Lihat, aku berkali-kali mengulangi betapa aku merindukanmu. Maaf, kau baca saja dengan senyum ya, Rien. Angggapa saja penebusan untuk rentangan lini masa yang selama ini ada.

Sejak hari ini, Rien. Aku akan menulis, menulis, lalu menulis lagi. Bersamamu dalam setiap rangkaian kata. Aku akan bercerita tentangmu, denganmu, untukmu. Dan mungkin satu hari nanti, entah saat pagi atau senja, mungkin juga di ujung malam ketika bintang menari di langit semesta, bisa juga di akhir detik terakhir dari waktu, kita akan bertemu, dan aku bisa menggenggam tanganmu lagi.

Advertisements
Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s