Jurnal

Setelah 12 Tahun

Senja tadi aku terjaga, Rien. Menyadari dua belas tahun telah berlalu dan sepanjang itulah aku telah mencoba melupakanmu. Dua belas tahun, Rien. Itu berarti empat ribu tiga ratus delapan puluh tiga hari. Aku mencoba untuk menemukan semua hanyalah upaya sia-sia.

Senja tadi aku terjaga, Rien. Dan wajahmu terbayang jelas. Sejelas aroma jeruk yang menguar dari jemarimu, jemari yang mengupasi satu demi satu jeruk-jeruk dari keranjang plastik kecil itu. Sejelas senyum yang mengiringi senandung kecil dari bibirmu. Lagu itu kesukaanmu. Tentang berlari mengejar angin, di tepi riuh deburnya air. Menanti perahu layar yang pulang menepi dan menjala cinta.

itu sore terakhir kita, Rien. Esoknya kamu pergi. Meninggalkan aku dengan segala kenangan, rasa, mimpi dan rindu yang kusangka telah ku kosongkan dari degup jantung dan hela nafasku. Ternyata pikiranku terlalu mencintaimu, hingga rela membohongiku. Sangkaanku selama ini salah.

Lagu itu terdengar senja tadi, Rien. Dan itu membuatku sadar akan rindu yang tak mau pergi. Setelah dua belas tahun, aku ternyata masih merindukanmu.

Empat ribu tiga ratus delapan puluh tiga hari. Dan besok akan direset kembali pada angka nol. Aku dan pikiranku sudah sepakat. Selepas hari ini, aku akan menelusuri jejak rindu ini, Rien.

Selepas dua beleas tahun, esok adalah hari baru.

Meskipun nyatanya tak ada yang terlalu baru. Kau tahu sendiri, Rien. Ini rindu yang sudah tersimpan cukup lama.

Advertisements
Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s