Jurnal

Pergiliran Musim Hati

“Kau pernah begitu larut dalam narasi kepedihan dan kehilangan, Ben. Pun kini kubaca pada helai-helai catatanmu adalah baris-baris kata tentang cinta.”
Karin tak sadar ia memilin sejumput helai rambut di sisi telinganya saat berujar, pagi tadi dalam percakapan tak jelas arah. Kami bersisian pada bukit pasir, duduk menatapi batas air dan gelung ombak yang manja memeluk pantai. Continue reading

Standard